Rabu, 17 Juli 2013

PENYLUHAN GANGGUAN JIWA DENGAN ISOLASI SOSIAL (ISOS)

LAPORAN  PENYULUHAN
PERAN SERTA KELUARGA DALAM MERAWAT KLIEN ISOLASI SOSIAL
DI RSJ. Dr. ERNALDI BAHAR PALEMBANG






Diajukan Oleh:
                                                                        Very Julius wijaya
                                                                        Okta syilva
                                                                        Megawati
                                                                        Recha rentani


PROGRAM STUDY DIPLOMA III  KEPERAWATAN
STIKES MUHAMMADIYAH PALEMBANG
TAHUN AKADEMIK 2012/2013


SAP
SATUAN ACARA PENYULUHAN


A. Topik                      : Peran serta keluarga pada klien dengan isolasi social (isos) dan                                                       penatalaksanaannya.
B. Sub topic                : Isolasi Sosial
C. Hari / tanggal          : Senin 2 mei  2013
D. Waktu                    : 08:30
E. Sasaran                   : Keluarga Klien dan klien
F. Pelaksana                : Mahasiswa
G. Tempat                   : di ruang tunggu di  RSJ. Dr. ERNALDI BAHAR PALEMBANG .
H. Tujuan                    
                          a. TIU           : Setelah dilakukan penyuluhan selama 15 menit diharapkan keluarga klien                                        dapat   berinteraksi dengan orang lain secara optimal.
                                 b. TIK           : Setelah dilakukan penyuluhan selama 30  menit keluarga klien                                                         klien dan keluarga diharapkan dapat mampu memahami :
                        1.    Mengetahui pengertian isolasi sosial
                        2.    Mengetahui penyebab menarik diri
                        3.    Mengetahui tanda dan gejala isolasi social
                               4.   mengetahui sumberkoping dari isolasi social?
                               5.   mengetahui mekanisme koping isolasi social ?
                                         6.   mengetahui Peran serta keluarga dalam merawat klien Menarik Diri?
                        7.    Mengetahui penatalaksanaan isolasi sosial
I. Latar Belakang
               Menarik diri (withdrawal) adalah suatu tindakan melepaskan diri, baik perhatian maupun minatnya terhadap lingkungan sosial secara langsung ( isolasi diri ). Pada mulanya klien merasa dirinya tidak berharga lagi sehingga merasa tidak aman dalam berhubungan dengan orang lain.
               Pada klien dengan menarik diri diperlukan rangsangan/ stimulus yang adequat untuk memulihkan keadaan yang stabil. Stimulus yang positif dan terus menerus dapat dilakukan oleh perawat. Apabila stimulus tidak dilakukan / diberikan kepada klien tetap menarik diri yang akhirnya dapat mengalami halusinasi, kebersihan diri kurang dan kegiatan hidup sehari –hari kurang adequat.
J. Seleksi pasien dan keluarga
Proses seleksi yang dilakukan dengan cara :
                  1.      Hasil pengamatan sehari-hari
                  2.      Informasi dari perawat ruangan
                  3.      Status kesehatan pasien
                  4.      Pasien dan keluarga yang kooperatif
                  5.      Pasien dengan defisit perawatan diri

Nama Klien dan Keluargan Klien
No
Nama Klien
Nama Keluarga Klien
1.
Nn. A
Ny. D
2.
Sdr. B
Ny. E
3.
Sdr. C
Tn. F

K. Jaduwal Kegiatan
1.      Tempat pelaksanaan pendidikan kesehatan                 : Bangsal merak RSJ ernadi bahar                                                                                                                  Palembang
2.      Lama pelaksanaan pendidikan kesehatan                 : 30 menit (08.00 – 08.30 )
3.      Waktu pelaksanaan pendidikan kesehatan               : 
L.  Metode Pelaksanaan            : Ceramah dan Tanya jawab
M.  Media dan Alat                   : Lieflet, dan lembar balik



N. Pengorganisasian
1.      Penyuluh                      : Very Julius Wijaya 
2.      Fasilitator                     : okta syilvia
3.      Observer                       : Recha rentani
4.      dokumentasi                :  megawati
O. Setting Tempat
P

F & K

O
 Keterangan :
P : Penyuluh
F : Fasilitator
D: dokumentasi
K : Keluarga
O : Observer







P. Strategi dan Pelaksanaan
No.
WAKTU
KEGIATAN PENYULUHAN
RESPON
TTD
  1. 
5. Menit
Pre interaksi
a.       Memberi salam
b.      Memperkenalkan diri
c.       Menjelaskan maksud dan tujuan
d.      Menanyakan kesiapan pasien
e.       Memilih media yang sesuai (telah disiapkan)
-       Menjawab salam
-         Mendengarkan
2.
25.Menit
Interaksi
a.     Menjelaska tentang pengertian dari isolasi social
b.   Menjelasklan tentang apa saja penyebab dari menarik diri
c.     Menjelaskan tentang tanda dan gejala dari isolasi social
d.      Menjelaska tentang keuntuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian berhubungan dengan orang lain
e.       Menjelaskan tentang penatalaksanaan isolasi sosial
-       Keluarga klien mendengarkan dan memperhatikan penjelasan seputar isolasi social.
3.
5. Menit
Terminasi
a.    Merapikan alat
b.    Menyimpulkan hasil penyuluhan kesehatan
c.    Evaluasi keberhasilan penyuluhan kesehatan
d.    Memberikan saran
e.    Salam penutup .
-       Keluarga klien dapat menjawab pertanyaan yang diberikan oleh penyuluh.
           



Q. Evaluasi
       1.    Apa pengertian dari isolasi sosial ?
       2.   Apa saja penyebab dari menarik diri ?
       3.   Apa tanda dan gejala dari isolasi sosial ?
       4.  apa saja sumberkoping dari isolasi social?
       5. apa mekanisme koping isolasi social ?
            6. Peran serta keluarga dalam merawat klien isolasi  social ?
          7.    Sebutkan penatalaksanaan isolasi sosial?














LAMPIRAN MATERI

  A.  Pengertian
                    Isolasi social adalah suatu keadaaan kesepian yang diekspresikan oleh individu dan dirasakan sebagai hal yang ditimbulkan oleh orang lain dan sebagai suatu keadaan negative yang mengancam. ( Mary C. Townsend, Diagnose Keperawatan. Psikiatri, 1998).
        Isolasi social adalah suatu keadaan pasien yang mengalami ketidakmampuan untuk mengadakan hubungan dengan orang lain atau dengan lingkungan.
`                  isolasi social adalah Suatu sikap dimana individu menghindari diri dari interaksi dengan orang lain. Individu merasa bahwa ia kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk membagi perasaan, pikiran, prestasi, atau kegagalan. Ia mempunyai kesulitan untuk berhubungan secara spontan dengan orang lain, yang dimanifestasikan dengan sikap memisahkan diri, tidak ada perhatian, dan tidak sanggup membagi pengamatan dengan orang lain. (Balitbang, dalam Fitria, 2010, hlm. 29
  B.  Penyebab dari menarik diri
1.    Faktor predisposisi
        Kegagalan perkembangan yang dapat mngakibatkan individu tidak percaya diri, tidak percaya orang lain, ragu takut salah, putus asa terhadap hubungan dengan orang lain, menghindar dari orang lain, tidak mampu merumuskan keinginan, dan merasa tertekan.
                        Menurut Fitria (2009, hlm. 33-35) ada empat faktor predisposisi yang menyebabkan                                     Isolasi Sosial, diantaranya:
            1. Faktor Tumbuh Kembang
                 Pada setiap tahapan tumbuh kembang individu ada tugas perkembangan yang harus dipenuhi agar tidak terjadi gangguan dalam hubungan sosial. Bila tugas perkembangan tidak terpenuhi maka akan menghambat fase perkembangan sosial yang nantinya akan dapat menimbulkan masalah sosial.
Dibawah ini akan dijelaskan tahap perkembangan serta tugas perkembangan, lihat tabel 2.1 dibawah ini:
Tahap Perkembangan
Tugas
Masa Bayi
Menetapkan rasa percaya.
Masa Bermain
Mengembangkan otonomi dan awal perilaku mandiri
Masa Prasekolah
Belajar menunjukan inisiatif, rasa tanggung jawab, dan hati nurani
Masa Sekolah
Belajar berkompetisi, bekerja sama, dan berkompromi
Masa Praremaja
Menjalin hubungan intim dengan teman sesama jenis kelamin
Masa Dewasa Muda
Menjadi saling bergantung antara orang tua dan teman, mencari pasangan, menikah, dan mempunyai anak
Masa Tengah Baya
Belajar menerima hasilkehidupan yang sudah dilalui
Masa Dewasa Tua
Berduka karena kehilangan dan mengembangkan perasaan keterkaitan dengan budaya
            2.Faktor Sosial Budaya
Isolasi sosial atau mengasingkan diri dari lingkungan sosial merupakan suatu faktor pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan sosial. Hal ini disebabkan oleh norma-norma yang salah dianut oleh keluarga di mana setiap anggota keluarga yang tidak produktif seperti lanjut usia, penyakit kronis, dan penyandang cacat diasingkan dari lingkungan sosialnya.

            3. Faktor Biologis
        Faktor biologis juga merupakan salah satu faktor pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan sosial. Organ tubuh yang dapat mempengaruhi terjadinya gangguan hubungan sosial adalah otak, misalnya pada klien skizofrenia yang mengalami masalah dalam hubungan sosial memiliki struktur yang abnormal pada otak seperti atropi otak, serta perubahan ukuran dan bentuk sel sel dalam limbik dan daerah kortikal.


            4. Faktor Komunikasi dalam Keluarga
     Gangguan komunikasi dalam keluarga merupakan faktor pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan sosial. Dalam teori ini yang termasuk dalam masalah berkomunikasi sehingga menimbulkan ketidakjelasan yaitu suatu keadaan dimana seorang anggota keluarga menerima pesan yang saling bertentangan dalam waktu bersama atau ekspresi emosi yang tinggi dalam keluarga yang menghambat untuk berhubungan dengan lingkungan diluar keluarga.

            2.    Faktor presipitasi
                    Dari factor sosio kulturalkarena menurunnya stabilitas keluarga dan berpisah dengan orang yang terdekat atau kegagalan orang lain untuk bergantung, merasa tidak berarti dalam keluarga sehingga menyebabkan klien berespon menghindar dengan menarik diri dengan lingkungan.
                 Menurut Stuart (2007, hlm. 280) faktor presipitasi atau stresor pencetus pada umumnya mencakup peristiwa kehidupan yang menimbulkan stres seperti kehilangan, yang memenuhi kemampuan individu berhubungan dengan orang lain dan menyebabkan ansietas. Faktor pencetus dapat dikelompokkan dalam dua kategori yaitu sebagai berikut:
1. Stresor Sosiokultural. Stress dapat ditimbulkan oleh menurunnya stabilitas unit keluarga        dan berpisah dari orang yang berarti.
2. Stresor Psikologi. Tuntutan untuk berpisah dengan orang terdekat atau kegagalan orang          lain untuk memenuhi kebutuhan. 


  C.  Tanda dan Gejala
                         1.          Apatis, ekspresi sedih.
                         2.          Menghindari orang lain (menyendiri), klien tampak memisahkan diri dari orang lain,               misalnya pada saat makan.
                         3.          Komunikasi kurang atau tidak ada. Klien tidak tampak bercakap-cakap dengan klien              lain,             misalnya pada saat makan.
                         4.          Tidak ada kontak mata, klien lebih sering menunduk.
                         5.          Berdiam diri dikamar/tempat terpisah. Klien kurang mobilitasnya.
                         6.          Menolak berhubungan dengan orang lain. Klien memutuskan percakapan atau pergi                            jika             diajak bercakap-cakap.
                         7.          Tidak melakukan kegiatan sehari-hari. Artinya perawatan diri dan kegiatan rumah                              tangga             sehari-hari tidak dilakukan.
                         8.          Posisi janin pada saat tidur.
                         9.          Tidak mampu membuat keputusan.dan berkonsentrasi.
D. Sumber Koping
Menurut Stuart (2007, hlm. 280) sumber koping yang berhubungan dengan respon sosial maladaptif adalah sebagai berikut :
1. Keterlibatan dalam hubungan keluarga yang luas dan teman.
2. Hubungan dengan hewan peliharaan yaitu dengan mencurahkan perhatian pada hewan          peliharaan.
3.  Penggunaan kreativitas untuk mengekspresikan stres interpersonal (misalnya: kesenian,        musik, atau tulisan)
     Menurut Stuart & Laraia (2005, hlm. 432) terkadang ada beberapa orang yang ketika ada masalah mereka mendapat dukungan dari keluarga dan teman yang membantunya dalam mencari jalan keluar, tetapi ada juga sebagian orang yang memiliki masalah, tetapi menghadapinya dengan menyendiri dan tidak mau menceritakan kepada siapapun, termasuk keluarga dan temannya

E. Mekanisme Koping
                 Menurut Stuart (2007, hlm. 281) individu yang mengalami respon sosial maladaptif menggunakan berbagai mekanisme dalam upaya untuk mengatasi ansietas.

Mekanisme tersebut berkaitan dengan dua jenis masalah hubungan yang spesifik yaitu sebagai berikut:
1)        Koping yang berhubungan dengan gangguan kepribadian antisosial
     a.  Proyeksi merupakan keinginan yang tidak dapat ditoleransi, mencurahkan emosi                   kepada orang lain karena kesalahan sendiri. (Rasmun, 2004, hlm. 35)
     b. Spliting atau memisah merupakan kegagalan individu dalam menginterpretasikan dirinya dalam menilai baik buruk. (Rasmun, 2004, hlm. 36)
2)        Koping yang berhubungan dengan gangguan kepribadian ambang
v  Splitting
v   Formasi reaksi
v  Proyeksi
v  Isolasi merupakan perilaku yang menunjukan pengasingan diri dari lingkungan dan orang lain. (Rasmun, 2004, hlm. 32)
v  Idealisasi orang lain
v  Merendahkan orang lain
v  Identifikasi proyeksi
Berdasarkan bagan diatas respon sosial pada pasien dengan isolasi sosial dibagi menjadi respon adaptif dan respon maladaptif :
1.       Respon Adaptif
           Respon adaptif adalah respon yang masih dapat diterima oleh norma-norma sosial dan kebudayaan secara umum yang berlaku. Menurut Fitria (2009, hlm. 32) yang termasuk respon adaptif adalah sebagai berikut:
a. Menyendiri, merupakan respon yang dibutuhkan seseorang untuk merenungkan apa yang      telah terjadi dilingkungan sosialnya.
b.  Otonomi, merupakan kemampuan individu untuk menentukan dab menyampaikan ide,        pikiran, dan perasaan dalam hubungan sosial.
c.  Bekerja sama, merupakan kemampuan individu yang saling membutuhkan orang lain.
d. Interdependen, saling ketergantungan antara individu dengan orang lain dalam membina        hubungan interpersonal.
2.  Respon Maladaptif
                 Respon yang diberikan individu menyimpang dari norma sosial. Yang termasuk kedalam rentang respon maladaptif adalah sebagai berikut:
a.       Menarik Diri
Seseorang yang mengalami kesulitan dalam membina hubungan secara terbuka dengan orang lain.
b.       Ketergantungan
Seseorang gagal mengembangkan rasa percaya diri sehingga tergantung dengan orang lain.
c.       Manipulasi
Seseorang yang mengganggu orang lain sebagai objek individu sehingga tidak dapat menerima hubungan sosial secara mendalam.
d.      Curiga
Seseorang gagal dalam mengembangkan rasa percaya terhadap orang lain.
F. Peran serta keluarga dalam merawat klien isos
           Keluarga Penting Artinya  dalam perawatan dan penyembuhan pasien,keluarga pember perawatan utama dalam pemenuhan kebutuhan dasar dan mengoptimalkan ketenangan jiwa bagi pasien.
Tujuan Perawatan adalah :
·         Meningkatkan Kemandirian Pasien
·          Pengoptimalan peran dalam masyarakat
·         Meningkatkan kemampuan memecahkan masalah
            Perawatan Dirumah Yang Dapat Dilakukan Oleh Keluarga
v    Memenuhi kebutuhan sehari-hari
v    Bantu dan perhatikan pemenuhan kebutuhan makan, minum,                       kebersihan diri dan penampilan
v    Latih dan libatkan klien dalam kegiatan sehari-hari (cuci pakaian,                setrika, menyapu, dll)
v    Bantu komunikasi dengan teratur
v    Bicara jelas dan singkat
v    Kontak / bicara secara teratur
v    Pertahankan tatap mata secara teratur
v    Lakukan sentuhan yang akrab
v    Sabar, lembut, tidak terburu-buru
v    Hindari kecemasan pada klien
            Libatkan dalam Kelompok
v  Beri kesempatan untuk menonton TV, mendengarkan music, membaca buku, dll
v  Sediakan peralatan pribadi seperti tempat tidur, almari, dll
v  Pertemuan keluarga secara teratur
v  Menyendiri bisa menimbulkan gangguan jiwa lain yaitu halusinasi ( merasa mendengar bisikan, merasa melihat bayangan, merasa ada yang meraba, merasa mencium bau, yang semua itu sebenarnya tidak ada.
  H.   Penatalaksanaan
                   1.        Bina hubungan saling percaya
                   2.        Interaksi sering dan singkat
                   3.        Dengarkan dengan sikap empati
                   4.        Beri umpan balik yang positif
                   5.        Jujur dan menepati semua janji
                   6.        Bimbing klien untuk meningkatkan hubungan sosial secara bertahap
                   7.        Berikan pujian saat klien mampu berinteraksi dengan orang lain
                   8.        Diskusikan dengan keluarga untuk mengaktifkan support system yang ada
                   9.        Kolaborasi dengan dokter tentang pemberian obat anti depresan
I. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan medis untuk pasien dengan gangguan jiwa dibagi berdasarkan dua metode, yaitu sebagai berikut
a.    Metode Biologik
Metode biologik yang digunakan pada pasien dengan isolasi sosial adalah sebagai berikut:
1.      Terapi Psikofarmaka
                 Terapi psikofarmaka yang akan diberikan ditujukan pada gangguan fungsi neurotransmitter sehingga gejala-gejala klinis dapat dihilangkan atau dengan kata lain skizofrenia dapat diobati (Hawari,2006, hlm. 96). Obat antipsikotik terpilih untuk skizofrenia terbagi dalam dua golongan (Hawari, 2006, hlm. 97-99) yaitu antipsikotik tipikal (Klorpromazim, Trifluferazin, Haloperidol) dan antipsikotik atipikal (Klozapin, Risperidon). Antipsikotik golongan tipikal tersebut bekerja dengan memblokir reseptor dopamin terpilih, baik diarea striatal maupun limbik di otak dan antipsikoti atipikal menghasilkan reseptor dopamin dan serotonin selektif yang menghambat sistem limbik. Memberikan efek antipsikotik (gejala positif) dan mengurangi gejala negatif.
2.  Menurut Doenges (2007, hlm.253) prosedur diagnostik yang digunakan untuk mendeteksi fungsi otak pada penderita gangguan jiwa adalah sebagai berikut:
a. Coputerized Tomografi (CT Scan)
Induvidu dengan gejala negatif seringkali menunjukkan abnormalitas struktur otak dalam sebuah hasil CT scan. (Townsend, 2003, hlm. 318)
            B. Magnetik Resonance Imaging (MRI)
Mengukur anatomi dan status biokimia dari berbagai segmen otak.
C.Positron Emission Tomography
Mengukur fungsi otak secara spesifik seperti metabolisme glukosa, aliran darah terutama yang terkait dengan psikiatri.
2.      Elektroconvulsif Therapy (ECT)
Digunakan untuk pasien yang mengalami depresi. Pengobatan dengan ECT dilakukan 2 sampai 3 kali per minggu dengan total 6 sampai 12 kali pengobatan. (Townsend, 2003, hlm.316)

b.      Metode Psikososial
Menurut Hawari (2006, hlm. 105-111) ada beberapa terapi untuk pasien skizofrenia, diantaranya adalah sebagai berikut:
1.      Psikoterapi
Psikoterapi pada penderita skizofrenia baru dapat diberikan apabila penderita dengan terapi psikofarmaka sudah mencapai tahapan dimana kemampuan menilai realitas sudah kembali pulih dan pemahaman diri sudah baik. (Hawari, 2006, hlm. 105)
2.      Terapi Psikososial
Dengan terapi psikososial ini dimaksudkan agar penderita mampu kembali beradaptasi dengan lingkungan sosial sekitarnya dan mampu merawat diri, mampu mandiri tidak bergantung pada orang lain sehingga tidak menjadi beban bagi keluarga dan masyarakat. (Hawari, 2006, hlm. 108-109)
3.      Terapi Psikoreligius
Terapi keagamaan terhadap penderita skizofrenia ternyata mempunyai manfaat. Diantaranya yaitu gejala-gejala klinis gangguan jiwa lebih cepat hilang, lamanya perawatan lebih pendek, hendaya lebih cepat teratasi, dan lebih cepat dalam beradaptasi dengan lingkungan. Terapi keagamaan yang dimaksud adalah berupa kegiatan ritual keagamaan seperti sembahyang, berdoa, shalat, ceramah keagamaan, kajian kitab suci dan lain sebagainya. (Hawari, 2006, hlm. 110-111)